Bangunan lama di Bandung tidak perlu dipaksa masuk ke satu rupa "kolonial". Untuk membaca perbedaannya, mulai dari hal yang terlihat pada fasad—susunan pintu dan jendela, bentuk bukaan, garis atap, permukaan dinding, serta serambi—lalu bedakan pengamatan itu dari kesimpulan tentang gaya atau zamannya.
Tiga kelompok gaya sebagai peta awal
Dalam pembahasan arsitektur kolonial Belanda di Indonesia, dikenal tiga kelompok besar: Arsitektur Hindia Lama, Arsitektur Imperium Hindia, dan Arsitektur Hindia Baru [2]. Nama-nama ini berguna sebagai kerangka, tetapi tidak otomatis cukup untuk menetapkan gaya sebuah bangunan tertentu di Bandung.
Uraian tentang masa awal arsitektur kolonial menyebut pengaruh pengetahuan dan keterampilan dari Belanda, penggunaan konstruksi batu, serta perhatian VOC pada fungsi bangunan ketimbang kemegahan [2]. Konteks ini mengingatkan bahwa bentuk bangunan berkaitan dengan cara membangun dan kebutuhan pemakaiannya, bukan ornamen semata.
Contoh dari Batavia menunjukkan betapa spesifiknya detail yang dapat dicatat: rumah-rumah digambarkan tinggi, berfasad sempit dan berdinding plester, dengan jendela kecil yang dilengkapi anyaman rotan untuk ventilasi [2]. Rincian itu bisa menjadi pembanding saat mengamati fasad, tetapi tidak seharusnya langsung dianggap sebagai ciri semua bangunan lama di Bandung.
Detail fasad perlu dibaca bersama-sama
Satu unsur saja jarang cukup untuk memastikan gaya. Sebagai pembanding regional, uraian arsitektur Surabaya menggambarkan gaya Imperium melalui denah simetris, pilar bergaya Yunani, serambi terbuka, dan koridor penghubung [1]. Unsur-unsur itu dapat menjadi petunjuk untuk dibandingkan, bukan rumus yang bisa ditempelkan begitu saja pada bangunan di kota lain.
Karena itu, pengamatan yang cermat mencatat hubungan antarelemen: apakah pintu dan jendela tersusun seimbang, bagaimana bukaan berhubungan dengan ventilasi, dan apakah serambi atau elemen lain membentuk bagian dari susunan fasad. Setelah rincian terlihat, barulah label gaya menjadi kesimpulan yang perlu diuji, bukan titik berangkat.
Fasad juga berbicara tentang ruang kota
Arah hadap bangunan dapat memberi petunjuk tentang hubungannya dengan jalan. Di Surabaya, Gedung Grahadi yang dibangun pada 1794–1798 direnovasi sekitar 1810 agar fasadnya menghadap Jalan Raya Pos [1]. Contoh ini menunjukkan bahwa membaca fasad dapat melibatkan lebih dari bentuknya: posisi dan arah hadap juga layak diperhatikan.
Hubungan bangunan dengan kota tampak pula pada susunan kawasan. Uraian tentang Batavia menyebut pola blok dan kanal, serta mencatat pola perencanaan dan arsitektur serupa dalam pembangunan pelabuhan VOC di Semarang [2]. Contoh tersebut bukan gambaran tata kota Bandung, tetapi membantu menempatkan fasad dalam konteks yang lebih luas: sebuah bangunan berdiri sebagai bagian dari jalan dan lingkungan, bukan sebagai objek terpisah.
Hindari anggapan bahwa semua pengaruhnya seragam
Arsitektur kolonial juga tidak selalu berarti satu pengaruh budaya tunggal. Ruko Tionghoa dalam uraian arsitektur Indonesia disebut memadukan unsur Tionghoa, Belanda, dan pribumi, termasuk dalam sistem ventilasinya [2]. Hal itu menjadi pengingat untuk tidak menyamakan kemiripan beberapa detail dengan asal-usul yang sama. Untuk membaca bangunan lama di Bandung, langkah paling jernih ialah mencatat ciri yang tampak, mempertimbangkan hubungannya dengan ruang kota, lalu menggunakan label gaya hanya sejauh bukti mendukungnya.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Arsitektur kolonial di Surabaya. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29427619&title=Arsitektur_kolonial_di_Surabaya (diakses 2026-10-02).
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Arsitektur kolonial di Indonesia. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29794499&title=Arsitektur_kolonial_di_Indonesia (diakses 2026-10-02).